Monday, February 18, 2008

Baby's day out!


Maksa sih...
Dari judulnya aja maksa, Baby's day out, hehe..nyomot dari film tahun 1994. Alesanya sih simpel, pertama orang rumah selalu manggil aku dengan sebutan beby, temen-temen di rumah sakit apalagi manggil selau dengan sebutan mas Beby, hehehe..sekarang jadi rada mirip to?antara Beby dengan Baby (bukan babi! some people call me that as a joke!) . Dan alesan yang kedua, dalam kurun waktu 7 tahun belakangan ini, baru kemaren saya merasakan indahnya hidup (selain merasakan angin malam di Paris, hehehe..), dimana semua temen-temen deket jaman SMU kumpul buat menghadiri pernikahan salah satu anggota kumpul-kumpul kita. Dari 14 orang yang selalu bareng, kemaren hanya 6 orang yang ikut acara lanjutan makan-makan. Rasanya benar-benar keluar dari rutinitas harian yang sangat membosankan...
Multidisciplinary forum, huahahaha..istilah keren bikinan saya, kok bisa?! Karena memang, dari 14 orang yang kumpul kemaren, hanya 2 yang jadi dokter, sisanya ada yang jadi apoteker, guru bahasa Inggris, pengusaha warnet, IT programmer, supervisor toko buku, hakim, jadi kumplit. Dan tentu saja, yang membuat saya merasa sangat senang adalah, we're all making jokes of our profession. Mulai dari mosi tidak percaya kebanyakan orang bila datang berobat ke saya, hingga guyonan rekan saya yang mau diangkat menjadi penasihat IT di Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. Sungguh hari yang menyejukkan, disela-sela kesibukkan kerja..

Thursday, February 14, 2008

Hastiti Skin Care - Dr. Moewardi General Hospital



Pagi ini tampak ada sesuatu yang spesial dihalaman parkir depan RS Dr Moewardi Solo, arus kendaraan yang hendak parkir di area parkir belakang rumah sakit tampak sedikit dibelokan, penyebabnya adalah bangunan tenda berbalut satin putih dengan panggung kecil di bagian depan ruang perawatan cendana. Dalam hati pasti setiap orang bertanya, gawe apa gerangan yang bakal dilakoni direksi Moewardi kali ini.


Oh lala.. ternyata peresmian Hastiti skin Care, sebuah beauty clinic dan perawatan kulit aseli made in Moewardi. Bangga sih bangga, tapi ditilik dari segi marketing, menurut saya pemilihan nama "Hastiti" yang menurut pak direktur bermakna "sehat-setiti-dan teliti" ini sangat tidak marketable!Bukannya sewot sih, tapi kalo memang menilik dari mayoritas pasien RS Dr Moewardi yang memang penganut setia quotes William Shakespare "apakah artinya nama", nama "Hastiti skin care" saya kira tidak menjadi masalah. Tapi apakah targeting dari klinik kesehatan kulit tersebut hanya ditujukan untuk pasien-pasien tetap RS. Muwardi yang nota bene kurang mempermasalahkan nama itu? kalau saya yang jadi direktur tentau saja jawaban saya tidak!
Dari beberapa rekans yang saya temui dan telpon sejak pagi tadi, seluruhnya menyatakan nama "Hastiti" tidaklah marketable!hehe..bahkan beberapa ada yang mengatakan katrog dan kampyungan.. tapi kenapa juga kita mesti sewot yah?toh juga kita nggak ikut buat. Tapi yo tetep aja konyol, anyel campur-campur..bukannya nama Dr. Moewardi skin clinics lebih berwibawa dibanding Hastiti? Atau nama Solo skin care jauh lebih marketable dari Hastiti. Heran deh cuma pilih nama wae kok ga bisa....oalah dokter Indah, kok nggak usul nama yang agak bagusan.


Tapi walau bagaimana, bangga juga biar kata rumah sakit negeri udah punya skin care clinic yang lebih wah dari Natasha, LBC ataupun Larissa, gimana ngga klinik-klinik kecantikan yang sudah saya sebutkan tadi pemiliknya aja bukan dokter kulit, sedang disini hehe..semua staff kulit mulai dari doktor hingga guru besar, ahli aesthetic surgery ngumpul semua, ada klinik bedahnya lagi, jadi suka deh, tapi yah apa boleh buat, apalah artinya sebuah nama..

Thursday, January 31, 2008

Serangan Lintah


Bhuhuhu...dari judulnya posting ini mirip judul film fiksi ilmiah gaya Hollywood, namun memang benar, sudah lama laporan serangan lintah pada manusia dilaporkan dalam dunia kedokteran. Tak ayal di Indonesia, dimana sebagian besar wilayahnya masih berupa hutan, dengan kelembaban tinggi dan suhu yang relatif stabil, suatu komposisi yang disukai lintah.

Lintah atau dalam ilmu taksonomi bernama Hirudo medicinalis memang merupakan hewan invertebrata yang tersebar hampir diseluruh dunia, hewan ini memiliki zat antikoagulan dalam liurnya yang akhir-akhir ini sering dipakai untuk pengobatan thrombus. Dalam bidang medis, banyak dilaporkan serangan akibat lintah, dan mayoritas dari pasien memang memiliki riwayat berwisata di daerah basah semisal pegunungan dan sungai / jeram.


Sebuah kasus yang pernah ditangani bagian THT RS Dr Moewardi Solo, ialah seorang pria dengan lintah yang "menyangkut" dalam rongga hidung. Pasien datang dengan keluhan lemas (anemia, karena darah yang dihisap lintah terus menerus dan dalam waktu lama), hidung buntu (karena ukuran lintah yang makin membesar), dan riwayat mimisan dan diteruskan dengan muntah darah / hematemesis. Mimisan diras berhenti karena darah yang keluar tidak dapat mengalir melaui lubang hidung luar dikarenakan adanya sumbatan lintah, dan akhirnya darah akan mengalir melalui lubang hidung belakang dan keluar sebagai muntahan darah. Setelah dilakukan scanning ditemukan adanya gambaran hiperdens pada daerah rongga hidung, setelah dilakukan endoscopy voila! ditemukan adanya lintah yang berukuran lumayan besar. Setelah ditelusuri, memang ditemukan riwayat pasien pernah berwisata ke daerah air terjun Grojogan Sewu di kawasan wisata Tawang Mangu Solo.

Kasus serupa juga pernah dilaporkan di Taiwan, bahkan kasus serangan lintah yang pernah dilaporkan di Eropa bermanifestasi menjadi perdarahan saluran kemih (hematuria) yang diakibatkan serangan lintah kedalam kandung kencing yang masuk melalui alat kelamin.

Jadi, alangkah lebih bijaknya untuk tidak berendam atau menggunakan air sungai untuk sekedar membasuh wajah, sejernih apapun airnya. Kita tidak akan pernah tahu bahaya yang selalu mengancam kita dibalik air jernih tersebut.

Cheers..

Wednesday, January 30, 2008

Anemia


Mungkin sebagian dari kita bertanya, apa hubungan gambar diatas dengan judul posting ini. Mungkin setelah membaca posting ini kita dapat menemukan benang merah antara gambar tersebut dengan anemia.
Sebenarnya gambar tersebut saya ambil saat saya mengendarai mobil menuju candi Sukuh di lereng gunung Lawu, biasa, kegiatan rutin mengantar mahasiswa kedokteran asing untuk jalan-jalan. Saat melewati jalur itu, sering saya menemui gambaran simbok-simbok desa memanggul beban berat menuruni atau menaiki bukit, dan setiap melihat peristiwa itu, spontan dari mulut saya terucap it's soo Indonesia! yah memang benar, setelah kata-kata itu terucap saya selalu menceritakan mengenai kasus yang "sering" saya jumpai di rumah sakit. Maklum saya bangga dengan simbok-simbok desa itu dalam hal ketahanan hidup.
Sering saya menemui di rumah sakit seorang simbok dirawat (dan biasanya dari daerah pegunungan) dengan keluhan lemes, dan hebatnya hasil pemeriksaan Hb dari laboratorium selalu berkisar antara 3 gr% hingga 6 gr% sesuatu yang tidak mungkin kita jumpai di Eropa! Saat saya beruntung mencicipi belajar di sebuah rumah sakit Eropa, dengan Hb pasien yang 10 gr% saja dokter Eropa yang merawat sang pasien bingung bukan kepalang, saya tidak habis pikir, bagaimana bila mereka diserahi pasien simbok-simbok desa ini. Hebat memang dengan Hb begitu rendah orang-orang tersebut masih mampu survive. Namun memang kita perlu prihatin, gambaran tersebut bukan merupakan mutasi gen sehingga mampu menyebabkan simbok desa menjadi seorang Super Simbok sehingga mampu survive dalam kondisi seekstrem tersebut. Gambaran tersebut dikarenakan masih minimnya sikap peduli terhadap kesehatan diri sendiri pada masyarakat desa. Sehingga keluhan-keluhan kecil kadang tidak dirasakan dan akhirnya menjadi bom waktu bagi mereka.
Kebanyakan, anemia yang diderita masyarakat pedesaan bersifat kronis, dan kebanyakan pula berasal dari manifestasi cacingan.
Anemia dalam bahasa latin berarti "tanpa darah" (an-hemia). Anemia sendiri terdiri dari berbagai macam bentuk, tergantung dari bentukan sel darah merah yang dilihat di laboratorium. Dari macam-macam bentuk sel darah merah tersebut, kita mampu mendefinisikan penyebab dari anemia. Semisal bentuk sel darah yang lebih kecil dari normal dapat diakibatkan oleh adanya gangguan dalam sintesis heme / globin, dapat pula sebagai manifestasi kekurangan zat besi dalam tubuh. Sedang anemia dengan sel darah yang relatif masih berukuran normal dapat diakibatkan oleh kehilangan darah akut (misal: trauma) maupun kehilangan darah kronis (misal: cacingan). Anemia kadang juga disebabkan karena adanya kelainan sistem hematopoetik dan juga kebutuhan darah yang meningkat tanpa disertai produksi yang meningkat pula semisal pada kehamilan.

Terapi anemia biasanya tergantung derajad keparahan dan penyebab dari anemia itu sendiri. Pada anemia dengan defisiensi zat besi dapat diberikan suplementasi besi dalam diet, pemberian vitamin C juga dipercaya membantu penyerapan zat besi dalam pencernaan. Pada anemia dengan defisiensi asam folat dan vitamin B12, tentu saja dapat diberikan suplementasi asam folat dan vitamin B12 sebagai tambahan diet. Pada anemia yang diakibatkan karena penyakit ginjal dan kemoterapi dapat diberikan obat-obatan erythropoetin recombinant. Sedang pada kasus simbok desa ataupun kehilangan darah akibat trauma akut tentu saja satu-satunya terapi adalah dengan pemberian transfusi darah.

Well, semoga posting ini bermanfaat bagi kita semua, dan menggugah kesadaran kita akan pentingnya kesehatan pribadi.

Cheers...

Monday, January 14, 2008

Another Incomings


Phew.. Incomings season datang lagi, ini dia kerjaan baru di tahun 2008 dari IFMSA (International Federation of Medical Students Activities), biar udah dianggep tetua di IFMSA tetep aja dapet tugas nemenin incomings dari luar, gapapa lah, itung-itung melatih bahasa inggris saya di bidang klinik.
Incomings dalam term IFMSA adalah sebutan bagi para pelajar kedokteran asing yang beruntung menimba ilmu di negeri orang. Sedang bila pelajar kita yang dikirim ke luar negeri disebut outgoing. Saya pernah merasakan menjadi kedua-duanya saat di Polandia tahun lalu, tapi diawal tahun ini saya kejatuhan sampur untuk lagi-lagi menemani manusia-manusia asing ini. Well, lagi-lagi tugas mulia baik sebagai pendidik, dan sebagai guide!

Cheers..

Saturday, January 12, 2008

Bizzare Food


Sekarang ini saya punya hobi baru setiap rebo malam, nonton Discovery travel 'n living tepatnya apalagi kalo nggak nonton Bizzare Food. Acara kuliner yang menurut saya lebih mak nyuss dari punya bang bondan ini dipandu oleh seorang gourmand asal New York, Andrew Zimmern. Sebenarnya format acaranya simple, jalan-jalan dan makan-makan, mirip acara kuliner serupa, namun yang bikin saya ketagihan buat nonton adalah menu makanan yang disajikan. Mulai dari makan roasted guinea pig di Ecuador, Piranha bakar di hulu Amazone, otak kambing di Morocco sampai makan cacing bakau, balut dan ulat kelapa di Filipina dia jalani, tapi sayang hanya satu yang menurut kita orang Indo makanan lezat, nggak cukup bizzare sih, tapi bikin Andrew muntah, durian.

Entah kenapa durian sangat dibenci oleh kaum barat, katanya sih karena baunya. Dari 15 sejawat saya dari Eropa yang pernah mengunjungi Indonesia hanya 1 orang yang doyan makan duren, itupun monthong, yang baunya kurang menyengat dibanding duren jawa / sumatra. Menurut kita orang melayu dan siam, bau durian bisa dikatakan wangi, dengan tekstur buah manis dan gurih, benar-benar eksotis, rajanya buah!



Saya pernah berandai, bila Andrew shoot acaranya di Solo mungkin bisa tiga episode untuk menjelajah makanan aneh orang Solo. Mari kita sebut, mulai dari tengkleng, otak goreng, gule jerohan kambing (mirip sup jerohan orang Ecuador), sate berbuntel lemak, sate kuda, sate jamu (daging anjing), sate landak, sate cobra sapardi, sate brutu, duren, hingga gudeg ceker Margoyudan. Memang bangsa pemakan segala, lebih parah dari bangsa manapun, hehehe.. Sampai ada joke satire yang mengatakan "kasian anjing di Solo, hampir semua bagian kambing dan sapi habis dimakan manusianya."


Bahkan saya sempat heran, saat saya menemani rekan saya dari Jerman memasak sup ayam, dari sebuah ayam utuh mentah yang dibeli di supermarket, hanya segenggam daging yang dimanfaatkan untuk memasak sepanci sup, sisanya terpaksa kami buat untuk bikin soto, keesokan harinya, dengan sedikit simsalabim, dia bisa juga kena tipu dan akhirnya makan sisa ayamnya, hehe.. selalu banyak akal.

Bila dilihat ada garis merah perbedaan pola makan antara bangsa Eropa dengan orang Solo, orang Eropa cenderung memakan makanan sehat, menghindari jerohan, lemak dan kulit, sehingga apa yang dimakan Andrew Zimmern yang "hampir" serupa dengan makanan kita mereka bilang bizzare. Tidak seperti orang Indonesia dan Solo khususnya, kita memakan hampir semua makanan yang mengandung kolestrol, trigliserid, asam urat tinggi dan dimasak menggunakan minyak dengan asam lemak jenuh, sungguh berapa dari kita yang telah mengalami penyempitan lumen aorta, berapa dari kita yang tidak memiliki plak di arteri koroner dan berapa dari kita telah mengalami degenerasi mitokondria DNA sehingga menyebabkan terjadinya disfungsi endotel.

Tapi apapun resikonya, saya tetap orang Solo, yang bangga dengan keagungan varietas kulinernya, seperti kata Andrew Zimmern...

"if its look good, eat it!!"
Cheers...

Sunday, December 30, 2007

Banjir maning..




Kacau! udah sejak tanggal 25 dec, sampe sekarang, Solo timur dan selatan tetep aja banjir. Sempet surut sih, tapi hari ini tadi masih aja banjirnya, kesian..
Sejak terakhir kali banjir besar, pada tahun 1966, Solo merupakan daerah steril bencana (kecuali bencana yang diakibatkan massa pendukung salah satu calon presiden yang gagal dan geger cina di tahun 1998). Namun sekarang, ironisnya, setelah beberapa hari ketok palu di Bali masalah Global Warming, Solo dan wilayah disekitarnya sudah mendapat efek dari bencana global tersebut. Solo bagian timur, dimana dilewati sungai bengawan solo, daerah sekitar Pucang Sawit dan Kampung Sewu, hancur diobrak-abrik banjir. Jalan Raya bagaikan toko mebel raksasa yang hancur disapu banjir, mulai dari sofa, kasur sampe mobil berlumur lumpur berserakan dijalan.
Lebih parah lagi daerah Solo selatan, Kampung joyotakan, semanggi, hampir seluruh daerah rendah berpenduduk padat, direndam berhari-hari oleh banjir. Ngeri banget ngga sih.. Beribu pengungsi tidur diemper-emper jalan, macet otomatis terjadi dimana-mana. Dan sempet juga buka posko pengungsi, kerjasama dengan PAPDI (persatuan ahli penyakit dalam) solo, melayani pengobatan bagi korban banjir di daerah Joyotakan.
Kasus terbanyak ialah common cold akibat terlalu lama
kontak dengan air dan udara malam kota solo. Terbanyak kedua adalah tertusuk paku saat beberes, tapi sayang kami memiliki keterbatasan dalam memiliki ATS. So, terpaksa merujuk RS untuk mendapat suntikan ATS...
Berapa puluh orang lagi yang akan tersiksa dengan "lock jaw" huwallohu 'alam bishowab..

L'epicerie


Kali ini saya mau berbagi pengalaman sedikit masalah bistrot yang saya sambangi di Strassbourg. L'epicerie namanya, bistrot di sudut gang sempit yang selalu dipenuhi oleh turis untuk menikmati tartine (semacam roti bakar dengan bermacam topping).


Saat masuk ke dalam bistrot ini kesan yang saya temui pertama adalah interiornya yang sangat sederhana, mirip sebuah toko kelontong tua yang menurut saya jauh lebih elegan dari disain-disain interior kafe-kafe dan resto modern.



Interiornya sangat "hangat" dan familier, walau terkesan tidak mewah tapi benar-benar chic. Mulai dari reklame-reklame lawas yang dipasang didinding, hingga lemari klontong yang berisi sikat lantai, bar soap, dan peralatan-peralatan "jadoel" lainnya.



Selain itu menunya, yang sebagian besar berupa tartine, sebuah roti keras a la eropa, yang dibakar dan diberi topping beraneka ragam, mulai dari tuna, angsa hingga madu dan almond, sangat menggugah selera. Walau porsi eropa yang cenderung posi nanggung dan porsi buat jaim (nggak seperti makanan solo yang porsinya bejibun), tapi rasanya pas diperut, nggak bikin kenyang, tapi udah ngilangin laper.


Masalah harga, yah lumayan mahal buat kantong WNI, sepiring roti bakar dihargai 40 ribu sampe 70 ribuan rupiah. Padahal di solo dengan harga segitu bisa dapet seember roti bakar + keju dan coklat, huehehehe. Tapi apa sih yang nggak buat sekedar pengalaman. Yang penting bagi saya "sudah pernah mencoba" dan wareg...

Cheers..

Saturday, November 10, 2007

Le Bistro de Paris


Siang itu cuaca di Paris sangat tidak bersahabat, niatnya ingin jalan-jalan ke Eiffel, malah kena ujan ditengah jalan. Saya, beberapa teman Indonesia, dan Katya, teman peranakan Russia yang udah lama tinggal di Normandy, mengajak kami berkeliling Paris. Dengan menaiki metro jalur 1 kami turun di Concorde, setelah berjalan mengitari concorde, kami menyusuri jalanan kota Paris menuju Champ de Mars dengan rencana menuju Eiffel lewat belakang. Memang mendung tak lagi mampu menahan air hujan, breeeessss.... tiba-tiba hujan turun.

tanpa pikir panjang, dan mumpung kita lagi laper, langsung saja masuk ke salah satu Bistro. Memang sih, bagi ukuran orang Indonesia, semua makanan di Paris memang tergolong mahal. Yah tapi kapan lagi bisa nyobain authentic Paris bistro. Setelah memutuskan, akhirnya kami pesan lasagna, walau bukan makanan khas Parisian, hanya ini makanan dengan sapi yang kami temukan, yang lain au porc! Hehe.. rekan saya Katya, memesan segelas vin rouge berlabel tahun 88 untuk menemani santap siangnya, sedang kami Indonesians wedang putih anyep sudah cukup.

Untuk seporsi lasagna 12 euro bukanlah duit yang sedikit, pikir saya di Solo saya bisa mendapat lebih dari 12 porsi nasi liwet Wongso Lemu yang sudah terkenal mahal. Namun mau nga mau, akhirnya kami iklas-iklas saja, walau raad berat pasta dan daging sapi giling ini melaju di tenggorokan. Hehehe.. ditemani sekerat Baguette, kami merasa makanan kegemaran Garfield tersebut, memang benar-benar tasty. Memang beda dengan yang saya biasa makan di Pizza hut, atau di kondangan, hehe.. dilengkapi dengan salad berdressing oilum olivarium, sungguh benar-benar sedap.

Akhirnya suapan terakhir lasagna menutup tetes terakhir air hujan yang jatuh ke canopy khas bistro Paris...
Kapan ya bisa menikmati hal ini lagi....